Membaca Peta Politik Raja Ampat Menuju Pilkada 2020

Oleh
Charles Imbir
(Anggota DPRD Raja Ampat)
Hasil pemilu pileg 17 april  2019 Kabupaten Raja Ampat telah mempunyai hasil yang di tetapkan KPUD pada 22 Juli 2019. Hasil tersebut akan terwujud pada rencana pelantikan DPRD Raja Ampat yang diperkirakan akan dilaksanakan pada tanggal 28 Oktober 2019.
Pileg tahun 2019 ini menempatkan Partai Demokrat sebagai pemenang pertama dengan 9 kursi yang akan memimpin lembaga dprd sebagai ketua dengan memiliki fraksi utuh. Selanjutnya partai pemenang ke dua adalah Partai Golkar yang akan menduduki wakil ketua 1 dengan perolehan kursi 4 serta memiliki fraksi utuh.
Kemudian partai pemenang ke 3 adalah partai hanura yang akan menduduki wakil ketua 2 dengan jumlah kursi 2 sama dengan partai pks tetapi partai hanura unggul suara yakni dengan jumlah suara 2753 sedangkan pks mempunyai jumlah suara 2555.
Hanura dan PKS tidak mempunyai fraksi utuh sehingga akan membentuk fraksi gabungan. Apakah akan bergabung ke Demokrat atau Golkar?? Atau kah akan membentuk fraksi gabungan bersama Nasdem, PAN dan Gerindra yang masing masing memiliki 1 kursi??
Dinamika ini masih akan berdialetika hingga pelantikan anggota dprd masa bakti 2019-2024 nanti.
Namun setidaknya irama pemilu kepala daerah akan menjadi cermin konfigurasi partai partai politik ini, sekaligus  dengan aktor aktor yang ada dibalik partai politik ini setidaknya bisa di lihat dan tergambar lewat ketua ketua partai dan sekretaris sekretaris partai politik.
Jika berkiblat pada situasi pemilu kepala daerah  2020 dan situasi faktual yang selama ini terjadi maka bisa diperkirakan calon pemilu kada dari partai politik adalah 3 kandidat maksimal.
Secara matematis partai demokrat akan mengusung dan tentunya  kandidatnya adalah Alfaris Umlati yang adalah bupati raja ampat dan sekaligus adalah ketua partai demokrat provinsi papua barat. Calon kedua adalah calon dari partai golkar yang hingga saat ini belum tampak walaupun demikian selama raja ampat berdiri partai golkar selalu mampu menjadi pengusung atau memunculkan calonnya. Calon ketiga adalah calon dari partai partai koalisi seperti hanura,pks, nasdem,pan dan gerindra.
Hanya saja berkaca pada situasi kali ini partai partai koalisi gabungan masih sulit untuk membentuk dan mengusung calonnya sendiri. Hal ini selain tampak dari koalisi nasional projokowi hanura dan nasdem, juga partai partai koalisi prabowo pks, pan, gerindra. Maupun secara ideologis di daerah tidak bertemu, justru di daerah kondisi kondisi lokal jangka pendek lebih berpengaruh yakni kepentingan ekonomi.
Jika melihat kondisi koalisi nasional dan aktor aktor partai politik di daerah maka akan muncul juga dua kubu yakni koalisi demokrat, pan, gerindra, dan pks. Dan koalisi golkar,hanura dan nasdem.
Jika ini terjadi maka pertarungan nasional antara projokowi dan proprabowo akan terjadi lagi di raja ampat. Mungkinkah hal ini akan terjadi??? Tentunya terlalu cepat untuk mengambil keputusan saat ini. Tetapi setidaknya ini akan membantu membaca situasi raja ampat  ke depan.
Bagaimana dengan situasi sosial masyarakat raja ampat??? Apakah kelompok kelompok sosial akan mampu mempengaruhi keputusan keputusan partai politik dan aktor politiknya??? Baik dari kelompok sosial adat, perempuan, agama, maupun kaum muda dan intelektualnya.
Berdialetika dan paham politik adalah cara rasional untuk membangun negeri raja ampat. Berpikir dan bertindak untuk kejayaan raja ampat yang madani.
Raja Ampat Warisan Dunia.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here