15 Hari Peristiwa Nduga, Hingga Kini Belum Ada Hasil Penyelidikan

Oleh
Yan Christian Warinussy
(Pembela HAM di Tanah Papua)

 

Sejak terjadinya peristiwa “penyerangan” dan “pembunuhan” yang diduga dilakukan oleh sekelompok warga sipil bersenjata terhadap para karyawan PT. Istaka Karya di Kabupaten Nduga, Propinsi Papua. Hingga hari ini sudah 15 hari berjalan, tapi sepertinya belum ada hasil penyelidikan yang disampaikan oleh Kapolda Papua dan jajarannya kepada publik.
Sementara yang terlihat dari berbagai informasi di media cetak dan elektronik maupun media online adalah kegiatan evakuasi korban serta pencarian beberapa karyawan perusahaan pembuat Jalan trans Papua tersebut yang diduga hilang dan atau belum ditemukan.
Bahkan terkesan justru yang terjadi di Kabupaten Nduga lebih menjurus ke operasi militer dibandingkan dengan kegiatan penegakan hukum.
LP3BH Manokwari mencatat bahwa hampir dalam kurun waktu 5 (lima) tahun terakhir ini selalu terjadi aksi kekerasan terhadap warga sipil di kawasan Pegunungan Tengah seperti di wilayah Kabupaten Nduga dan selalu tak pernah tuntas penegakan hukumnya.
Dimana jarang sekali para pelaku “penyerangan” dari kelompok sipil bersenjata tersebut dibawa ke pengadilan untuk mempertanggung-jawabkan perbuatannya. Bahkan dalam operasi militer yang terjadi termasuk terakhir di Nduga juga diduga keras ada jatuh korban pada pihak rakyat sipil.
Seperti catatan yang diperoleh LP3BH Manokwari diduga sedikitnya ada jatuh korban warga sipil orang asli Papua sebanyak 4 (empat) orang. Sangat disayangkan karena lembaga negara di Tanah Papua seperti Perwakilan Komnas HAM Papua justru tidak melakukan investigasi atas dugaan tersebut yang sangat kuat terindikasi sebagai pelanggaran Hak Asasi Manusia (HAM) yang berat.
Amiruddin al Rahab, dalam bukunya berjudul Heboh Papua. Perang Rahasia, Trauma dan Separatisme, tahun 2010 menulis bahwa Sejak jaman rezim militer Orde Baru Soeharto, tanah Papua “dijadikan” sebagai daerah kekuasaan militer, terutama Angkatan Darat (AD) bahkan Tanah Papua dijadikan sebagai Daerah Operasi Militer (DOM). Al Rahab menulis bahwa dalam pandangan orang-orang Papua, TNI alih-alih menjadi pelindung, malah menjadi seperti pagar makan tanaman. Disebutkannya bahwa operasi-operasi militer mendatangkan kesengsaraan lahir dan batin bagi orang-orang Papua.
Asumsi-asumsi ilmiah yang dikemukakan oleh saudara Amiruddin yang kini menjadi salah satu Komisioner Komnas HAM RI rupanya berlaku dan faktual untuk digunakan dalam peristiwa Nduga yang hingga hari ini masih “gelap” dari sisi penegakan hukum.
Sebagai salah satu advokat dan Pembela HAM, saya mengatakan demikian. Karena pertama, kita tidak pernah mendengar keterangan polisi tentang hasil identifikasi terhadap jenasah para korban 16 orang eka karyawan PT. Istaka Karya yang tewas tersebut. Kedua, kita tidak pernah mengetahui apakah para eks karyawan yang lolos atau selamat sudah dimintai keterangannya sebagai saksi sesuai amanat UU No.81 Tahun 1981 tentang Kitab Undang Undang Hukum Acara Pidana (KUHAP).
Ketiga, sama sekali belum diketahui apakah pihaj kepolisian sudah membuat Laporan Polisi (LP) sesuai amanat KUHAP dan Peraturan Kapolri (Perkap) tentang Menejemen Penyidikan atau tidak? Dan, keempat hingga hari ini kita belun tahu apakah ada calon tersangka yang akan dimintai pertanggung-jawaban hukumnya sesuai amanat pasal-pasal pidana dalam KUH Pidana.
Misalnya pasal 351 sampai pasal 357 tentang penganiayaan atau kejahatan terhadap tubuh (misdrijven tegen het Lijf). Atau tindak pidana terhadap nyawa atau disebut sebagai pembunuhan sebagaimana diatut dalam pasal 338 sampai dengan pasal 350 KUH Pidana.
Menurut pandangan saya dari sisi hukum pidana bahwa jika sampai nantinya kasus Nduga tidak berjalan langkah penegakan hukumnya lagi.
Maka niscaya tidak bisa menutup kemungkinan impunitas akan terus terjadi dan peristiwa kriminal bersenjata dengan sasaran rakyat sipil sebagai korban akan terus terjadi di Tanah Papua. Utamanya di wilayah pedalaman atau pegunungan seperti halnya Nduga dan tak pernah terselesaikan secara hukum.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here