Proyek Tangguh Train 3 Priotaskan Tenaga Kerja Asli Papua

Ilustrasi
MANOKWARI, Papuabaratonline.com – Perwakilan SKK Migas wilayah Papua dan Maluku (Pamalu) bersama BP Indonesia merilis kemajuan proyek Tangguh Train 3 yang berkaitan dengan Ketenagakerjaan lokal, Komitmen Amdal Tangguh, dan Manfaatnya.
Kepala Perwakilan SKK Migas Pamalu, A. Rinto Pudyanto menerangkan, proyek pengembangan Tangguh Train 3 sebagai salah satu proyek strategis nasional. Tak hanya berkontribusi terhadap penerimaan negara, tetapi juga mendukung perekonomian nasional dengan meransang keterlibatan antar sektor.
“Proyek Tangguh Train 3 ini sangat membutuhkan sinergi antara seluruh pemangku kepetingan baik ditingkat nasional dan daerah. Sangat penting menjaga pola komunikasi yang terbuka dan seling menguntungkan antara Tangguh dan para pemangku kepentingan,”kata Rinto saat melakukan jumpa pers, di Swisbel-Hotel, Kota Manokwari, Rabu (12/12/2018).
Lanjut, dia menjelaskan, proyek pengembangan Tangguh Train 3 di Kabupaten Teluk Bintuni, Propvinsi Papua Barat mulai sejak Agustus 2016 dan kebutuhan tenaga kerja mulai dari tingkat tidak terampil sampai dengan tingkat manajerial.
Sesuai dengan prinsip-prinsip perekrutan proyek pengembangan Tangguh Train 3, kata dia, proses rekrutmen tenaga kerja di tingkat Kabupaten Teluk Bintuni, Fakfak, Manokwari, dan Kota Sorong melalui Dinas Tenaga Kerja (Disnaker), SKK Migas, dan BP Indonesia.
Ditambahkan bahwa saat ini pembangunan Train 3 di Tangguh sedang berlangsung, sedangkan dua anjungan lepas pantai dan jalur pipa bawah laut telah dipasang. Maka diharapkan dapat diselesaikan sesuai dengan target yang telah ditetapkan.
Sementara Tangguh Suistainability Project dan External Interface Manager, Budi Hermawan dalam kesempatan mengatakan, proyek pengembangan Tangguh Train 3 adalah kemitraan antara Pemerintah Indonesia dan BP Indonesia.
Melalui proyek tersebut, lanjut dia, produksi gas alam cair kilang Tangguh LNG, yang berlokaso di Teluk Bintuni akan meningkat 3,8 juta tonb LNG per tahun. sehingga total produksi akan menjadi 11,4 juta ton per tahun. Dimana, sebanyak 75 persen dari produksi Tangguh Traind 3 ini akan disalurkan ke PLN.
“Proyek pengembangan Tangguh Train 3 telah melibatkanb masyarakat POapua sebagai tenagan kerja selama masa konstruksi baik itu masyarakat yang tingfga di 62 kampung di Teluk Berau dan Teluk Bintuni. Dari Fakfak, Sorong, Manokwari juga sebagaimana diatur di dalam Amdal dan Undang-Undang Nomor 21 Tahun 2001 tentang Otsus,”jelasnya.
Dikemukakan bahwa sampai dengan 30 November 2018 telah direkrut 1.655 pekerja dari Papua yakni 529 pekerja dari masyarakat yang tinggal di 62 kampung di Teluk Bintuni dan Teluk Berau. Dimana, 219 pekerja unskilled, 270 pekerja semi skilled, dan 38 pekerja skilled termasuk 2 pekerja posisi supervisor atau manajerial.
Kemudian, 520 pekerja dari Kabupaten Teluk Bintuni dan Fakfak dengan komposisi 91 pekerja unskilled, 260 semi skilled, danb 167 skilled termasuk 2 supervisor atau manajerial.
Sementara orang Papua dari berbagai kabupaten di Provinsi Papua dan Papua Barat sebanyak 606 pekerja dengan komposisi yaitu 11 pekerja unskilled, 244 semi skilled, 329 skilled, dan 22 manajerial dan supervisor.
Selain rekrutmen tenaga kerja, Tangguh LNG juga berkomitmen melatih karyawan lokal masyarakat asli dan Papua. dimana, sampai dengan November 2018 pihaknya telah memberikan pelatihan kepada 612 karyawan asli Papua.
“Mitra kerja Tangguh CSTS bekerjasama dengan Pusat Pelatihan Teknik Industri dan Migas (P2TIM) Kabupaten Teluk Bintuni sedang dalam proses merekrut tenaga kerja sebagai 36 oran. Untuk mengisi posisi sesuai keahlian masing-masing di proyek Train 3,”tutupnya. [RED/RW]

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here