Ketua Fraksi Otsus DPR : Kenapa Mahasiswa Papua di Makassar di Intimidasi??

Yan Yoteni//RED
MANOKWARI, Papuabaratonline.com – Ketua Fraksi Otonomi Khusus (Otsus) Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) Provinsi Papua Barat, Yan Yoteni angkat bicara soal tindakan intimidasi yang dilakukan terhadap mahasiswa Papua di Asrama Papua Kamasan V di Makassar menjelang 1 Desember 2018.
Menurutnya, peristiwa serupa sudah sering dialami mahasiswa Papua di Indonesia yakni di Jogja, Bali, Pulau Jawa, termasuk Makassar dan hampir setiap tahun terjadi hal-hal seperti itu.
“Ini tidak kita inginkan, ini buka negara teror atau intimidasi orang. Nah sebaliknya pemahaman tentang Bineka Tunggal Ika atau Berbeda-beda Tetapi tetap Satu, kelihatannya kita di Papua ini yang menganut itu,”kata Yan Yoteni, Ketua Fraksi Otsus DPR Papua Barat kepada wartawan, di Manokwari, Jumat (30/11/2018).
Namun, lanjut Yoteni, di daerah lain seperti di Jogja, Bali termasuk Makassar dan Manoda mungkin tidak menganut Bineka Tunggal Ika, padahal semua warga Indonesia yang wajib menganut paham Bineka Tunggal Ika tersebut.
“Saya juga tidak mengerti, padahal Bineka Tunggal Ika ini dikirim dari sana datang. Tetapi kita ini yang laksanakan, sedangkan disana kenapa tidak?. Jadi saya ini sudah bertanya kepada gubernur Sulawesi Selatan, Jogja dan Sultan bahkan gubernur Bali bahwa yang laksanakan Bineka Tunggal Ika ini siapa,”tanya dia.
Padahal, lanjutnya, di tanah Papua ini Orang Asli Papua (OAP) ada hidup bersama-sama dengan suku bangsa lain dan OAP tidak pernah melakukan tindakan intimidasi terharap orang lain atau pendatang.
“Kita di tanah Papua tidak pernah intimidasi orang, kita ada hidup sama-sama dengan suku bangsa lain. Sama-sama cari makan, baru kenapa anak-anak kami yang disana atau telebih khusus di Makassar dilakukan seperti itu,”sebutnya.
Dikatakannnya, dengan adanya mahasiswa Papua menuntut ilmu di Universitas di luar sana, justru meningkatkan Pendapat Asli Daerah (PAD) tempat atau daerah itu meningkat.
“Justru PAD di Tanah Papua dibawa kesana untuk kasi hidup orang-orang disana, kenapa di intimidasi. Coba kalian terimakasi kepada mereka (Mahasiswa-red), karena mereka membawa APBD disini untuk hidupkan ekonomi disekitar tempat perkuliahan dan kampusnya mereka juga bayar,”bebernya.
Untuk itu, kata dia, pola pikir sudut pandang ini yang harusnya pejabat-pejabat di tanah Papua ini ikut dalam artian, apabila ada pejabat Papua yang berpergian ke daerah-daerah tersebut harus menyampaikan kepada pejabat-pejabat di daerah-daerah tempat anak-anak Papua menuntut ilmu.
“Saya apresiasi gubenur Lukas Enembe, karena waktu peristiwa di Manado. Beliau mengutus pak Klementinal mewakili gubernur dan bertemua dengan gubernur Sulawesi Utara untuk bicara tentang masyarakat Manado yang berada di Papua dan kami kasi makan mereka dengan APBD kami di tanah Papua. Mereka ada hidup, dan menjadi yang jadi PNS,”ucap Yoteni.
Sebaliknya, dia mengemukakan, mahasiswa Papua yang kuliah di luar tanah Papua ini mereka hanya pergi menuntut ilmu dan sudah pasti akan balik untuk bekerja di tanah Papua.
“Anaka-anak hanya menuntut ilmu dan mereka tidak mungkin mencari kerja disitu dan sama dengan mahasiswa Papua yang di Jogja, Makassar, Bali dan di daerah lainnya. Nah kalau ada ekspresi orang berkumpul dan berdoa ya itu kan sesuai dengan sila pertama kita yaitu Ketuhanan Yang Maha Esa. Jadi masa orang kumpul berdoa kepada Tuhan harus ada intimidasi,”katanya.
Berbeda apabila ada tindakan-tindakan tertentu yang dilakukan mahasiswa, kata dia, misalnya mahasiswa melakukan tindakan pemukulan terhadap orang dan itu berarti ada kriminal.
“Tapi masa orang duduk berdoa kok di intimidasi. Mereka hanya segelintir orang kok, harus diteror. Sedangkan ribuan orang yang melakukan aksi protes terhadap Ahok saja, aman-aman,”pungkasnya.
Namun dalam kesempatan ini, dirinya berharap kepada seluruh mahasiswa Papua yang sedang menuntut ilmu di luar tanah Papua harus mengutamakan belajar.
“Fokus ingat orang tua, dan kami semua yang ada di tanah Papua ingin melihat mereka pulang bawa ijazah. Kami tidak ingin mereka pulang dengan kepala tertunduk atau kirim jenazah pulang juga kita tidak sedangkan,”tandasnya.
Seperti diketahui, peristiwa tindakan intimidasi terhadap mahasiswa Papua di Makassar terjadi sejak Senin (26/11/2018) sekitar pukul 16.00 WITA. Dimana, pada saat itu Asrama Mahasiswa Papua Kamasan V didatangi gabungan Organisasi Masyarakat (Ormas) dan Aparat Keamanan.
Kedatangan gabungan Ormas, dan Aparat Keamanan diduga untuk melarang atau mengecam semua aktivitas mahasiswa yang berkaitan dengan 1 Desember 2018. [RED/RW]

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here