FNMPP Usulkan 1 Desember 1961 Ditetapkan Sebagai Hari Masyarakat Adat Papua

Front Nasional Mahasiswa Pemuda Papua
MANOKWARI, Papuabaratonline.com – Presedium Nasional Front Nasional Mahasiswa Pemuda Papua (Presnas FNMPP) meminta, MRP, DPRP dan Gubernur untuk menetapkan tanggal 1 Desember sebagai hari Masyarakat adat Papua.
Pasalnya, hingga kini setiap memasuki tanggal 1 desember banyak pihak memporak porandakan momentum 1 desember sebagai tanggal keramat, sebagai hari bahaya, hari konflik, padahal sejujurnya 1 Desember harusnya diperingati sebagai simbol kultur Kepapuaan.
“Tanggal 1 Desember harusnya dihormati sebagai simbol kultur, hari masyarakat adat Papua. Dan tak seharusnya dianggap sebagai sesuatu yang berbaya dan mengancam,”kata Ketua Presnas FNMPP, Alvares Kapisa melalui press releasnya yang terima Papuabaratonline.com, Kamis (30/11/2018).
Menurutnya, jika Sejarah itu dibungkam dan ditutup-tutupi akan menciptakan konflik dan serangkaian perlawanan yang sudah barang tentu mengganggu Kamtibmas dan perdamaian, tetapi jika diatur dengan baik maka akan sangat aman dan tertib dan memberikan ruang penghormatan bagi masyarakat adat Papua.
“Mengingat tanggal 1 Desember telah tertanam dalam sanubari masyarakat adat Papua tentang realitas sejarah dimana pada tahun 1961 Para Dewan Nieuw Guinea Road menetapkan sejumlah Atribut kedaerahaan dan Kebangsaan Papua,”ucapnya.
Dikemukakanya bahwa 1 Desember 1961 dimana para Dewan Nieuw Guinea Road mencari identitas Kepapuaan, identitas Kultur dengan menetapkan Bendera Bintang Kejora sebagai Lambang Daerah, Nyanyian Seruling Emas nomor 2 “Hai Tanahku Papua” sebagai lagu Kedaerahan yang dikibarkan pada 1 desember 1961 dibawah Keresidenan Governoor Nederland Nieuw Guinea.
Dengan Demikian, tanggal 1 Desember 1961 adalah fase awal semangat kepapuaan itu tumbuh dan mekar, nilai-nilai dan semangat Kepapuaan itu lahir, nilai-nilai dan semangat kebudayaan Papua itu mekar. Kita tidak boleh menutup-nutupi sejarah kebudayaan suatu Bangsa.
Perlu diingat dan direnungkan, bahwa sebelum tanggal 1 Desember 1961, tidak pernah anak-anak Papua duduk bersama-sama dalam suatu forum resmi setingkat Dewan untuk bercakap-cakap tentang masa depannya. 1 Desember adalah tanggal dimana, anak-anak Papua duduk bersama dalam forum setingkat Dewan untuk mencari solusi bersama bagi masa depannya. Oleh sebab itu, Forum Nieuw Guinea Road dipandang sebagai momentum yang mengukir sejarah bangkitnya semangat kepapuaan yang mempersatukan dan membangun peradaban.
Tanggal 1 desember 1961 tidak boleh disamakan dengan gerakan-gerakan perlawanan, gerakan perjuangan karena pada prinsipnya peristiwa Dewan Nieuw Guinea Road terjadi dibawah kendali Governoor Nerlands Nieuw Guinea, pada tahun 1961 sebelum bergabungnya Papua didalam NKRI. Jadi, jika pemerintah Indonesia melihat tanggal 1 Desember sebagai ancaman, maka sesungguhnya, pemerintah Indonesia masih melihat Papua sebagai wilayah Koloni Belanda, bukan wilayah Indonesia yang sudah merdeka.
Peristiwa 1 Desember 1961 jelas berbeda dengan gerakan-Gerakan perjuangan kemerdekaan Papua yang dikumandangkan dibumi Papua, misalnya gerakan Viktoria pada 1 Juli 1971, Gerakan Dewan Melanesia (Bintang 14) pada 14 Desember 1988, Gerakan NRFPB pada 11 November 2011 dan sebagainya yang seharusnya dikawatirkan.
“Karena itu, kami menyarankan agar Majelis Rakyat Papua (MRP) mengusulkan dan menetapkan tanggal 1 Desember sebagai hari Masyarakat adat Papua agar pada setiap momentum 1 Desember dirayakan oleh masyarakat adat Papua sebagai hari indegenius people,”tandasnya. [RED/RW]

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here