Ini Pandangan Dosen Antropologi Unipa Terkait Identitas OAP di Era Modern

0
3125
Adolf Ronsumbre, S.Sos.,MA//RED
MANOKWARI, Papuabaratonline.com – Menyikapi persoalan identitas orang asli papua (OAP) di era modern. Dosen Fakultas Antropologi, Universitas Papua (Unipa) Manokwari, Adolf Ronsumbre, S.Sos.,MA angkat bicara.
Menurutnya, dalam konteks modern saat ini OAP akan mengalami suatu fonomena yaitu konstruksi identitas dan identitas ini muncul ketika terancam.
“Terancam dalam arti, peluang-puluang dalam berbisnis, dan berkerja dirampas oleh kelompok etnik yang lain. Nah dalam fenomena demikian muncul kontruksi identitas dengan dua isu pokok yaitu siapa saya dan siapa anda yang akan memunculkan sebuah konsep bahwa siapa yang asli dan siapa yang pendatang,”kata Ronsumbre kepada Papuabaratonline.com, setelah menyampaikan materi dalam kegiatan Training dan Kursus Advokasi Hak-hak Masyarakat Sipil, di Manokwari, Rabu (21/11/2018).
Dikatakannya bahwa konsep tersebut harus dikelola secara baik, karena akan menjadi potensi konflik. Sambungnya, pembentukan identitas-identitas seperti itu ditandai dengan gerakan-gerakan sosial menuju aksi perlawanan terhadap ancaman tersebut.
“Ketika tidak mendapat peluang untuk bekerja, dan diperoleh oleh kelompok etnik pendatang. Maka akan ada aksi perlawanan dan menjadi konflik, karena dia (OAP) ini merasa bahwa ini tanahnya tapi peluang untuk bekerja tidak terpenuhi dan dihalangi oleh kaum pendatang,”ujarnya.
Kemudian mengenai konteks kekhususan, Ronsumbre mengatakan, tidak ada sejarah Papua karena sejarah Papua dibentuk oleh sejarah suku-suku dan apabila dibilang Papua, maka harus berbicara dalam konteks suku bangsa.
“Nah dalam konteks modern ini, OAP hidup dilema yakni antara masalalu dan masa modern. Sementara kesulitan besar kita karena masalalu tidak ditulis pada masalalu, tapi ditulis dimasa kini,”sebut Ronsumbre.
Oleh sebab itu, menurut dia, harus terjadi konsensus antara suku-suku bangsa di Papua untuk membentuk sejarah baru, supaya kedepan generasi asli Papua tidak mengalami hal serupa seperti saat ini.
“Memang belum lengkap kajian tentang Papua, karena kajian tentang Papua harus dua. Dimana, kajian tentang wilayah budaya dan pusat budaya atau darimana orang asli Papua,”ungkapnya.
Namun, lanjut dia, dalam pengkajian sering terjadi kesulitan karena hampir penamaan-penamaan suku bangs itu adalah kata asli dan ada asumsi bahwa penamaan itu terkait dengan penyebaran suku bangsa Papua.
“Seperti orang Biak misalnya bilang Fiakuer berarti dari Biak baru menyebar ke suku yang lain atau katakan Amukme, Mairasi, dan Animha. Semua ini kan memiliki manusia sejati dan dari situ baru tersebar suku-suku. Ini yang menjadi kesulitan terbesar, jadi kajiannya hanya sampai wilayah budaya,”imbuhnya.
Oleh sebab itu, kata dia, konteks wilayah budaya ini harus di revisi dan penyederhanaan yang tanpa dasar, karena asumsinya itu konteks wilayah budaya ini hanya terdapat kesamaan.
“Tapi tidak menjelaskan kesamaan unsur apa yang membuat itu wilayah budaya. Jadi kita konteks modern jangan terlalu ikut-ikutan, tetapi kita harus bertanya ada apa dibalik itu,”tandasnya. [RED/RW]

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here