Kaum Perempuan Papua Barat Diimbau Lebih Dini Periksa Kanker Payudara

Sosialisasi Deteksi Dini Kanker Payudara oleh Yayasan Kanker Payudara Indonesia (YKPI).(foto/scg)

PBOnline.com, MANOKWARI– Grafik penderita Kanker Payudara di Indonesia, terus mengalami peningkatan dari tahun ke tahun, dan kini mencapai 41 persen.

Ini tentu membuka perhatian kaum wanita di Indonesia, termasuk Papua Barat, agar kedepan rutin memeriksakan kesehatannya ke dokter maupun Rumah Sakit terdekat.

Terkait hal ini, Badan Kerjasama Organisasi Wanita (BKOW) Papua Barat, Selasa (20/2/2017), menggelar sosialisasi deteksi dini Kanker Payudara, dengan menggandeng Yayasan Kanker Payudara Indonesia (YKPI).

Kegiatan sosialisasi di aula PWKI PB Sowi Manokwari, diikuti oleh puluhan organisasi wanita yang tergabung dalam BKOW.

Ketua BKOW Papua Barat, Ny. lani Lakotani, mengatakan kegiatan semacam ini tergolong langkah, sehingga diharapkan kegiatan ini dapat terus berkesinambungan.

Apalagi,  kaum perempuan masih sangat membutuhkan informasi tentang Kanker Payudara, serta penyakit lainnya yang berhubungan dengan kesehatan wanita.

“Apa yang disampaikan pemateri diharapkan bisa disimak baik, sehingga kita bisa tahu cara mendeteksi penyakit ini serta pencegahannya,” tukasnya.

Sementara, Ketua YKPI, Linda Anggun Gumelar, menuturkan pihaknya tak ingin adanya wanita yang terdeteksi bahkan meninggal karena penyakit Kanker Payudara.

“Berdasarkan data tahun 2017, penderitanya mencapai 41 persen dibandingkan dengan jenis kanker lainnya. Ini yang harus diantisipasi,” terang Linda.

Dikatakan Linda, rata-rata 70 persen wanita yang meninggal akibat Kanker Payudara adalah yang sudah stadium akhir. Padahal kanker ini bisa terobati ketika masih berstatus stadium awal.

“Terkadang adanya pembiaran dari wanita itu sendiri. Kenapa, karena pada stadium awal benjolan Kanker tidak terasa sakit. Makanya dianggap dan tidak perlu diseriusi,” ucap Linda.

“Padahal kalau sudah stadium akhir sulit untuk disembuhkan, tentu banyak dampaknya, baik ekonomi, karena biaya pengobatannya sangat mahal,” sambung Linda.

Diakui, dirinya pernah menderita penyakit tersebut, namun masih stadium awal dan patut bersyukur bisa disembuhkan.

“Pada stadium awal tidak terasa sakit, jadi periksa payudara lebih dini lagi agar tidak sampai stadium akhir,” ujar Linda.

Menurut Linda, perkembangan Kanker Payudara sangat cepat, sehingga kaum wanita jangan menunda untuk memeriksanya ke dokter. Karena yang patut diingat penyakit ini tidak dapat diobati dengan obat herbal atau ramuan lokal, tetapi hanya dengan cara medis.

Linda menyatakan, YKPI mempunyai program rumah singgah khusus untuk pasien BPJS kelas 3, dengan fasilitas 28 tempat tidur. Semua fasilitas disiapkan dengan harga 15.000/ hari.

“Jika semisal ada wanita dari Papua Barat yang sakit Kanker, kalau berobat ke Jakarta bisa menginap dirumah singgah kami, karena hargannya masih murah dan bisa dijangkau,” tandas Linda.

Linda berpesan, untuk kaum perempuan ketika terdeteksi Kanker Payudara tidak mudah putus asa, tetapi harus bertindak untuk diobati. Meskipun hidup dan mati tergantung pada stadiumnya, serta kuasa Tuhan.

“Kita harus bangun satu pemahaman, dan penderita harus berpikir secara positif, jangan mempersulit diri kita sendiri,” tutupnya.

Kegiatan ini dirangkaikan dengan penandatanganan MoU penanganan Kanker Payudara, oleh Ketua BKOW, Ny. Lani Lakotani, Ketua YKPI Linda Anggun Gumelar, serta Ketua PWKI Papua Barat.(scg)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here